Biasanyamereka mengobati sendiri dengan obat-obat keputihan yang dijual di pasaran tanpa merasa perlu memeriksakan diri ke dokter. Tindakan swamedikasi (pengobatan sendiri) hanya direkomendasi jika sebelumnya penderita sudah pernah didiagnosisi keputihan oleh dokter dan kembali muncul gejala yang sama atau mengalami kekambuhan (Manan, 2011).
Segeraperiksakan keputihan ke dokter apabila: Anda sedang hamil Keluarnya keputihan disertai gejala lain yang parah, seperti vagina terasa seperti terbakar saat buang air kecil, muncul nyeri hebat, dan ada perdarahan. Keluarnya keputihan disertai demam Vagina terasa sangat gatal Obat alami yang dicoba tak juga berhasil meredakan gangguan keputihan
akujuga ngalamin keputihan seperti bunda2 semua.. aku udh lama ngerasain keputihan terus dari 2thn yg lalu.. aku memang belum periksa ke dokter sebab akibat aku keputihan itu kenapa. sampai akhirnya aku menikah & hamil sampai 2bulan. pas hamil 2 bulan itu baru ketahuan bahwa janin aku tidak berkembang, setelah aku dikuret. dan hasil patologi
Vay Tiền Nhanh. Keputihan adalah kondisi ketika lendir kental atau cairan bening keluar dari vagina. Keputihan merupakan cara alami tubuh untuk menjaga kebersihan, kelembapan, serta untuk melindungi organ intim wanita dari infeksi. Ketika seorang wanita mengalami keputihan, cairan yang diproduksi kelenjar vagina dan leher rahim akan keluar membawa sel mati dan bakteri. Hal tersebut merupakan proses alami agar vagina tetap bersih sekaligus terlindung dari infeksi. Keputihan normal terjadi pada wanita yang masih mengalami menstruasi. Pada ibu hamil, keputihan mungkin akan lebih sering terjadi akibat perubahan hormon. Ketika wanita memasuki masa menopause, keputihan akan mulai berkurang. Penyebab Keputihan Keputihan terbagi menjadi dua, yakni keputihan normal dan keputihan tidak normal abnormal. Berikut ini adalah penjelasan dari keduanya Keputihan normal Keputihan adalah kondisi normal yang dialami oleh setiap wanita. Jumlah, warna, dan tekstur keputihan yang dialami setiap wanita dapat berbeda-beda, mulai dari keputihan yang kental dan lengket, hingga keputihan yang bening dan berair. Keputihan normal terjadi setidaknya 6 bulan sebelum wanita mengalami menstruasi untuk pertama kalinya. Kondisi ini dipengaruhi oleh perubahan hormon di dalam tubuh. Keputihan juga normalnya keluar saat wanita menerima rangsangan seksual, sedang menyusui, atau mengalami stres. Selain itu, keputihan juga bisa terjadi pada bayi baru lahir. Terkadang, keputihan pada bayi baru lahir juga disertai dengan sedikit darah. Hal ini terjadi ketika bayi terlalu banyak terpapar oleh hormon ibu saat masih di dalam kandungan. Namun, keputihan ini umumnya akan menghilang setelah bayi berusia 2 minggu. Keputihan tidak normal Keputihan yang tidak normal dapat disebabkan oleh infeksi jamur, bakteri, atau parasit. Infeksi pada keputihan abnormal terbagi menjadi dua jenis, yakni infeksi tidak menular dan infeksi menular. Penyebab keputihan dari infeksi tidak menular misalnya akibat vaginosis bakterialis dan candidiasis. Sementara itu, keputihan dari infeksi menular umumnya disebabkan oleh penyakit menular seksual PMS, seperti chlamydia, trikomoniasis, dan gonore. Selain infeksi, keputihan juga bisa menjadi tanda kanker pada rahim atau leher rahim serviks. Ada beberapa faktor yang dapat membuat seorang wanita rentan terserang infeksi vagina dan mengalami keputihan, antara lain Mengonsumsi pil KB dan obat kortikosteroid Menderita penyakit diabetes Berhubungan seksual tanpa kondom dan sering berganti pasangan Memiliki daya tahan tubuh lemah, misalnya akibat penyakit HIV & AIDS Mengalami iritasi di dalam atau sekitar vagina Menipisnya dinding vagina akibat menopause Terlalu sering membersihkan area kewanitaan dengan sabun yang mengandung parfum dan sabun antiseptik Gejala Keputihan Keputihan yang tergolong normal dapat terlihat dari ciri-ciri cairan yang keluar dari vagina, antara lain Tidak berwarna atau berwarna putih Tidak berbau atau tidak mengeluarkan bau menyengat Meninggalkan bercak kekuningan di celana dalam Memiliki tesktur cairan yang dapat berubah tergantung siklus menstruasi Sedangkan pada keputihan yang tidak normal, tanda dan gejalanya adalah sebagai berikut Cairan keputihan berbeda warna, bau, atau tekstur dari biasanya Cairan keputihan keluar lebih banyak dari biasanya Keluar darah di luar jadwal haid Keputihan yang abnormal tersebut dapat disertai dengan keluhan Gatal di area kewanitaan Nyeri di panggul Nyeri saat buang air kecil Rasa terbakar di sekitar vagina Perubahan warna pada cairan keputihan dapat menjadi tanda dari kondisi tertentu, seperti dijelaskan di bawah ini Keputihan berwarna coklat atau disertai bercak darah bisa disebabkan oleh siklus menstruasi yang tidak teratur, atau bisa juga merupakan tanda dari kanker pada rahim atau leher rahim Keputihan berwarna hijau atau kekuningan dan berbuih dapat disebabkan oleh penyakit trikomoniasis Keputihan berwarna kelabu atau kekuningan dapat disebabkan oleh gonore Keputihan berwarna putih dan kental dapat disebabkan oleh infeksi jamur pada vagina Keputihan berwarna putih, abu-abu, atau kuning, serta disertai dengan bau amis, dapat disebabkan oleh penyakit vaginosis bakterialis Keputihan berwarna merah muda bisa disebabkan oleh peluruhan lapisan rahim yang terjadi setelah melahirkan Kapan harus ke dokter Waspadai jika cairan keputihan mengalami perubahan warna, tekstur, dan bau. Kondisi ini dapat menjadi tanda keputihan yang berbahaya atau tidak normal, yang bisa disebabkan oleh infeksi atau kelainan organ reproduksi. Keputihan dengan ciri seperti itu dapat menjadi tanda penyakit kelamin wanita. Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami keputihan dengan tanda dan gejala yang tidak normal seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Terlebih, jika gejala tidak kunjung membaik setelah menjalani perawatan mandiri di rumah. Diagnosis Keputihan Untuk menentukan apakah keputihan bersifat normal atau tidak normal, dokter akan menanyakan gejala yang dialami, siklus menstruasi, dan riwayat hubungan seksual. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan panggul untuk memeriksa kondisi organ reproduksi wanita, seperti vagina, serviks, dan rahim. Keputihan yang tidak normal umumnya sudah dapat dideteksi pada pemeriksaan awal. Namun, dokter dapat menganjurkan pasien untuk menjalani pemeriksaan tambahan agar diagnosis lebih pasti, seperti Tes pH, untuk memeriksa tingkat keasaman lendir vagina dan mendeteksi tanda infeksi pada vagina Pemeriksaan sampel cairan vagina, untuk mendeteksi keberadaan jamur, bakteri, atau parasit yang menyebabkan keputihan Tes infeksi menular seksual, untuk mendeteksi tanda atau gejala dari infeksi menular seksual, seperti gonore, chlamydia, dan trikomoniasis Pap smear, untuk mendeteksi kelainan pada jaringan leher rahim serviks Pengobatan Keputihan Keputihan yang normal tidak memerlukan penanganan medis secara khusus. Kondisi ini bisa diatasi dengan membersihkan area kewanitaan menggunakan air secara rutin, untuk menghilangkan lendir atau cairan. Sedangkan cara mengatasi keputihan abnormal tergantung pada penyebabnya, misalnya dengan pemberian obat, seperti Antibiotik, seperti clindamycin, untuk menghilangkan bakteri penyebab keputihan. Antibiotik tersedia dalam bentuk pil atau krim oles. Antijamur, seperti fluconazole, clotrimazole, dan miconazole, untuk mengatasi infeksi jamur yang menyebabkan keputihan. Obat ini tersedia dalam bentuk krim atau gel yang dioleskan di bagian dalam vagina. Metronidazole atau tinidazole, untuk mengatasi keputihan yang disebabkan oleh parasit penyebab penyakit trikomoniasis. Obat ini hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Selain dengan obat-obatan dari dokter, keputihan juga bisa diatasi dengan obat keputihan tradisional. Namun, penggunaan obat-obatan tradisional tersebut harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. Sementara bila keputihan yang dialami merupakan tanda dari kanker rahim, dokter dapat menganjurkan operasi pengangkatan rahim histerektomi. Komplikasi Keputihan Keputihan yang tergolong tidak normal dapat menimbulkan berbagai komplikasi medis. Jika tidak diobati, beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat keputihan abnormal adalah Infeksi dan peradangan pada organ reproduksi Toxic shock syndrome Polip serviks Kemandulan Kehamilan ektopik Komplikasi kehamilan, seperti kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah Pencegahan Keputihan Langkah utama untuk mencegah keputihan abnormal adalah menjaga kebersihan area kewanitaan agar terhindar dari risiko infeksi. Cara yang bisa dilakukan yaitu Bersihkan vagina menggunakan pembersih vagina dan air hangat dari arah depan ke belakang setelah buang air kecil atau besar dan berhubungan seks, untuk mencegah bakteri dari dubur masuk ke dalam vagina Gunakan celana dalam berbahan katun untuk menjaga kelembapan pada area kewanitaan, dan jangan memakai celana dalam yang terlalu ketat Hindari penggunaan sabun atau produk kewanitaan yang mengandung parfum, karena dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik pada vagina Jaga kebersihan vagina selama menstruasi dengan mengganti pembalut setidaknya setiap 3–5 jam sekali Ganti celana dalam dan pantiliners secara rutin Gunakan kondom setiap berhubungan seks dan hindari berganti pasangan seksual agar terhindar dari risiko infeksi menular seksual Lakukan pemeriksaan kesehatan vagina secara rutin ke dokter, setidaknya 1 tahun sekali
Pada wanita, ada beberapa penyakit yang harus lebih diwaspadai dibandingkan dengan pria. Penyakit tersebut diketahui lebih rentan dialami oleh wanita karena kondisi biologis yang berbeda dari pria. Untuk itu, pemeriksaan ke dokter perlu dilakukan untuk memastikan gejala penyakit yang rentan dialami oleh wanita. Ketahui penyakit tersebut beserta gejalanya di bawah ini. Penyakit dan gejala pada wanita yang harus diperiksakan ke dokter Terdapat beberapa gejala atau keluhan yang menjadi tanda bagi wanita untuk segera periksakan diri ke dokter. Berikut di antaranya. 1. Nyeri dada Penyakit jantung diketahui menjadi penyebab kematian nomor 1 pada wanita. Gejala penyakit jantung pada wanita, meliputi berikut ini. Nyeri dada. Sesak napas. Kelemahan pada lengan. Pada wanita, sesak napas juga bisa disertai mual atau muntah. Namun, Anda sebagai wanita terkadang tidak menyadari gejala yang dialami sebagai penyakit jantung. Banyak yang menyangka gejala tersebut sebagai efek setelah berolahraga atau mulas. Selain itu, meski menopause tidak menyebabkan penyakit jantung, beberapa faktor pemicu dapat timbul setelah menopause, di antaranya yaitu tekanan darah tinggi, kolesterol, dan kadar estrogen rendah. 2. Kesulitan berbicara Dilansir dari Northwestern Medicine, setiap tahun stroke diketahui terjadi pada wanita hingga berjumlah lebih banyak dibandingkan dengan pada pria. Ada 2 jenis stroke yang dapat dialami, yaitu hemoragik atau pendarahan di otak, dan iskemik atau penyumbatan pembuluh darah yang menyebabkan gangguan aliran darah. Meskipun gejala dapat bervariasi tergantung pada penyebab stroke, gejala khas pada wanita termasuk kesulitan berbicara dan mati rasa pada tungkai. Selain itu, Anda perlu mengetahui bahwa ada juga hubungan antara kehamilan dan stroke. Preeklampsia, yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan tekanan darah tinggi selama kehamilan, dapat meningkatkan risiko stroke. Kelainan neurologis yang bisa terjadi selama kehamilan juga dapat dialami oleh wanita sebagai gejala stroke. Kelainan ini umumnya disebabkan oleh gangguan pembekuan darah akibat hiperkoagulasi atau pembekuan darah yang berlebihan. Gumpalan darah ini kemudian dapat membatasi aliran darah ke otak. 3. Kadar gula darah tinggi Diabetes pada wanita juga terjadi saat kadar gula darah tinggi. Ini bukanlah penyakit yang khusus dialami oleh wanita. Namun, penyakit ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 4 kali lipat pada wanita. Bukan hanya itu, wanita juga lebih rentan mengalami komplikasi diabetes, seperti kebutaan, penyakit ginjal, dan depresi. Selama masa kehamilan, diabetes gestasional juga dapat terjadi, yaitu kondisi ketika kadar glukosa meningkat dan menyebabkan komplikasi lain. Pengobatan gejala diabetes pada wanita saat ke dokter meliputi pola makan ketat, olahraga, pengawasan kadar glukosa, suntik insulin, dan obat minum. Inilah mengapa jika mengalami gejala diabetes, wanita perlu segera memeriksakan diri ke kondisi ini, pemeriksaan khusus serta pengawasan perlu dilakukan pada ibu hamil, terutama jika Anda bergantung pada insulin. 4. Benjolan pada payudara Adanya benjolan pada payudara diketahui dapat menjadi gejala kanker payudara pada wanita sehingga perlu segera dilakukan pemeriksaan ke dokter. Namun, sebagai deteksi awal, Anda juga bisa coba mendeteksi sendiri apakah ada benjolan pada payudara Anda. Meski sebagai besar benjolan pada payudara bukan termasuk kanker, pemeriksaan kanker payudara ke dokter tetap diperlukan guna memastikan gejala ini pada wanita. Untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri SADARI di rumah, dikatakan bahwa Anda tidak perlu menggunakan teknik khusus. Kuncinya adalah melakukannya secara rutin dengan meraba untuk mengetahui adanya bentuk asing yang mungkin terasa pada payudara Anda. 5. Nyeri pada bagian panggul dan perut Sangat dianjurkan bagi wanita yang mengalami gejala nyeri pada bagian pinggul dan perut bawah untuk segera periksa ke dokter kandungan. Dokter akan mendiagnosis masalah pada bagian sekitar area kelamin dan rahim Anda untuk mengetahui penyebab dan dampak yang akan timbul. Masalahnya, nyeri pada bagian panggul dan perut mungkin saja merupakan sebuah tanda adanya infeksi pada area tersebut. Beberapa kondisi yang mungkin muncul dengan gejala nyeri panggul dan perut adalah kista ovarium. Bahkan, kehamilan ektopik juga mungkin saja memiliki gejala yang serupa. Menurut survei yang dilakukan oleh American College of Obstetricians and Gynecologists ACOG, wanita yang mengalami nyeri panggul dan perut biasanya mengidap fibroid rahim atau endometriosis. 6. Perdarahan di luar menstruasi atau setelah menopause Bercak darah dari vagina belum tentu berarti Anda mengalami menstruasi. Itu sebabnya, gejala ini juga bisa memotivasi Anda sebagai wanita untuk periksa ke dokter kandungan. Terlebih, jika Anda telah mengalaminya dalam jangka waktu yang cukup lama. Perdarahan abnormal bisa saja mirip dengan menstruasi. Bedanya, perdarahan ini disertai rasa sakit dan beberapa gejala kondisi tubuh yang tidak sehat, seperti, mual, nyeri parah, dan wajah pucat pasi. National Institutes of Health menyatakan, jika terdapat gejala seperti yang telah disebutkan di atas, bisa jadi ada sesuatu yang bermasalah pada vagina Anda. Biasanya, ini menjadi tanda adanya cedera vagina, keguguran, atau bahkan kanker serviks. Begitu pun dengan wanita yang mengalami perdarahan setelah menopause. Ini bisa jadi merupakan tanda adanya kanker pada rahim yang mengharuskan Anda pergi ke dokter kandungan. Meski begitu, bukan berarti ketika Anda mengalami gejala yang telah disebutkan Ana pasti mengidap kanker serviks. Masih diperlukan pemeriksaan klinis lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya. 7. Masalah saat menstruasi Penting bagi para wanita untuk mengetahui gejala menstruasi yang normal dan tidak normal sehingga tahu kapan harus melakukan pemeriksaan ke dokter. Kadang, beberapa keluhan muncul akibat mentruasi yang terjadi lebih dari satu kali dalam sebulan atau tidak teratur. Ini menandakan adanya masalah pada bagian rahim dan kelamin Anda. Apalagi jika masalah menstruasi ini disertai dengan tubuh yang merasa lemah atau pusing selama menstruasi berlangsung. Waspadai! Jika terjadi gejala menstruasi yang tidak normal, tidak ada alasan bagi wanita untuk tidak periksa ke dokter kandungan. Menstruasi yang jarang atau tidak teratur bisa menjadi sebuah gejala dari kondisi kesehatan seperti sindrom ovarium polikistik PCOS, masalah ketidakseimbangan hormon, atau bahkan menjadi tanda bahwa Anda sedang hamil. 8. Keputihan berwarna dan berbau, atau nyeri di bagian kelamin Pada dasarnya, keputihan pada wanita merupakan gejala yang wajar sebagai cara vagina membersihkan diri, sehingga pemeriksaan ke dokter tidak diperlukan. Namun, jumlah dan warna cairan vagina ini menentukan apakah keputihan tersebut normal atau tidak. Jika Anda mengalami gejala keputihan dalam jangka waktu yang lama dan warnanya tidak putih, apalagi jika berbau menyengat, sebaiknya Anda pergi ke dokter kandungan atau spesialis kelamin. Menurut ACOG, jika gejala keputihannya disertai gatal-gatal dan sakit di bagian kelamin, itu merupakan tanda-tanda vaginitis yang mengharuskan Anda sesegera mungkin periksalkan diri ke dokter kandungan. Ada dua penyebab utamanya, pertama adalah infeksi ragi dan bakteri di kelamin Anda. Kedua adalah herpes yang menyebabkan luka pada bagian dalam kelamin. 9. Nyeri saat berhubungan seks Jangan sampai hubungan seksual yang biasa Anda lakukan menjadi sebuah derita akibat rasa sakit yang dirasakan. Nyeri saat berhubungan seks dapat dikatakan sebagai nyeri panggul dalam atau nyeri di daerah kelamin Anda. Penyebab umumnya adalah vagina yang kering tidak terangsang dengan baik, infeksi pada vagina, atau fibroid rahim vagina. Jika gejala pada wanita di atas sudah mulai Anda alami, jangan tunda lagi waktu untuk periksa ke dokter spesialis kandungan. Pentingnya periksa kesehatan ke dokter secara rutin Sama seperti pada pria, sebagai wanita, Anda tak perlu menunggu mengalami gejala penyakit tertentu untuk memeriksakan diri Anda ke dokter. Ada baiknya Anda mulai menjadwalkan kunjungan periksa secara rutin ke dokter. Nantinya, Anda mungkin akan menjalani beberapa rangkaian pemeriksaan untuk melihat kondisi tubuh Anda secara menyeluruh. Menjalani pemeriksaan secara rutin sejak dini dapat membantu menemukan kejanggalan sedini mungkin. Dengan begitu, penyakit dapat dicegah sebelum mulai memburuk.
- Keputihan bisa jadi adalah salah satu keluhan yang paling banyak diutarakan oleh para wanita di berbagai belahan dunia. Keputihan atau dalam istilah medis dikenal sebagai leucorrhea, white discharge, atau fluor albus merupakan istilah untuk menjelaskan keluarnya cairan dari vagina selain darah ini biasanya dapat menimbulkan ketidaknyamanan serta dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Baca juga 9 Makanan yang Baik untuk Kesehatan Vagina Keputihan sebenarnya adalah cara alami tubuh untuk menjaga kebersihan dan kelembaban organ intim Medical News Today, cairan atau lendir yang diproduksi dalam vagina dan leher rahim ini akan membawa sel-sel mati serta bakteri keluar dari vagina, sehingga vagina tetap bersih. Penyebab keputihan fisiologis normal adalah faktor hormonal. Keputihan normal dapat terjadi pada masa subur, dan masa menjelang atau sesudah menstruasi. Keputihan normal juga bisa terjadi melalui rangsangan seksual. Pada kondisi tersebut, keputihan yang terjadi pada umumnya memiliki ciri-ciri berikut Encer dan tidak lengket Berwarna bening Tidak didapatkan rasa gatal Tidak berbau Meski beberapa keputihan bersifat normal, namun kaum hawa perlu mewaspadai beberapa hal yang dapat menyebabkan keputihan menjadi abnormal.
pengalaman periksa keputihan ke dokter